KUDUS-TEGAL PP


Penentuan Awal Ramadhan dan Syawwal
September 13, 2009, 7:11 pm
Filed under: Islamy | Tags: , , , , , ,

Penentuan Awal Ramadhan dan Syawwal

Latar belakang

Sudah sejak lama umat islam (terutama di Indonesia) sering memulai Puasa Ramadhan atau berhari raya Idul Fitri tidak bersamaan, bahkan pada jaman penjajahan di kabupaten yang satu dengan kabupaten lainnya waktu berpuasa tidak sama walaupun di tempat yang berdekatan. Hal ini disebabkan karena ada banyak faktor dintaranya perbedaan metode, kaidah dsb.

Di Indonesia pemerintah, ulama dan berbagai kalangan terkait telah bersepakat bahwa seluruh kawasan nusantara adalah satu kesatuan hukum (wilayatul hukmi) sehingga kesepakatan atau keputusan tentang awal dan akhir Ramadhan akan berlaku untuk wilayah hukum negara kesatuan Republik Indonesia yang diputuskan dalam sidang Itsbat.

Sebenarnya hasil penentuan awal dan akhir Ramadhan sangat beragam bukan hanya antara Ru’yah dan Hisab. Sesama praktisi yang menggunakan ru’yah pun terdapat hasil yang berbeda-beda. Lebih banyak lagi didapat beragam-ragam hasil hisab karena mereka menggunakan metode yang berbeda-beda.

Didalam Al-Quran memang tidak ada ayat yang tegas yang menggariskan cara apa yang wajib dipakai. Dalil tertinggi yang dipakai adalah suatu Hadits shahih yang diriwayatkan oleh beberapa perawi yang kuat dan terkemuka. Inilah sumber dari semua aliran penentuan awal dan akhir Ramadhan.

‏  ‏إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا فَإِنْ ‏ ‏غُمَّ ‏ ‏عَلَيْكُمْ فَاقْدِرُوا لَهُ ‏

 ‏الشَّهْرُ تِسْعٌ وَعِشْرُونَ فَإِذَا رَأَيْتُمْ الْهِلَالَ فَصُومُوا وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا فَإِنْ ‏ ‏غُمَّ ‏ ‏عَلَيْكُمْ فَاقْدِرُوا لَهُ ‏

Pada dasarnya di dalam hadits ini ada dua klausul. Pertama, penentuan awal Ramadhan dan Syawwal ditentukan dengan cara me RU’YAH. Pengertian ru’yah disini bermakna generik tidak sama tepat dengan pengertian ru’yah yang sekarang kita ketahui. Kedua, bila langit tertutup awan فَإِنْ ‏ ‏غُمَّ ‏ ‏عَلَيْكُمْ [fa in ghumma ‘alaykum]. Maka kadarkanlah kepadanya فَاقْدِرُوا لَهُ [fa uqdiruu lahu]. Inilah dua pangkal dari berbagai cabang dan ranting dalam penentuan awal dan akhir Ramadhan.

Dua cabang utama adalah Ru’yah dan Hisab. Perbedaan ini muncul dari penafsian istilah generik “ru’yah”. Satu cabang menafsirkan arti istilah raa-a, yaraa-u, ru’yatan secara harfiah murni yaitu melihat dengan mata-kepala, yakni pengamatan dengan mata. Secara harfiah kata mashdar ru’yah berarti penglihatan. Persamaan kata dalam bahasa inggris ru’yah adalah vision yang bisa berarti penglihatan baik menggunakan lahir maupun batin. Kata dasar dalam bahasa Arab untuk melihat dengan panca-indra mata adalah nazhara, yang mempunyai persamaan kata dalam bahasa Inggris adalah to see, sight.

Cabang lainnya yang menafsirkan lebih lentur, mengingat dalam Al-Qur’an terdapat kata ru’yah waktu tidur yang berarti mimpi atau visi.

Dari dua cabang utama penetuan awal dan akhir Ramadhan muncul ranting-ranting berikut ini penjabarannya

Ru’yah

Dari metode ru’yah ini sendiri muncul beberapa perbedaan, ada tiga aspek yang menjadi sumber perbedaan didalam metode ru’yah kesaksian, keberlakuan (mathla’) dan penggunaan alat bantu seperti teropong.

Kesaksian

Perbedaan pendapat tentang kesaksian diantaranya jumlah saksi pe-ru’yah, sifat adil dari saksi dan kesesuaian dengan ilmu atau perhitungan. Mengenai jumlah saksi, sebagian menegaskan bahwa pentingnya jumlah saksi agar menjamin sah-nya ru’yah, sebagian lagi menganggap tidak mementingkan jumlah saksi artinya mengesampingkan kuantitas karena lebih utama kualitas yang dinyatakan dengan sifat dan perilaku yang adil. Pengertian adil sendiri dapat bermakna luas. Faktor yang mempengaruhi adil bisa dari jam-terbang dan konsentrasi, maka dari itu biasanya sebelum melakukan ru’yah para pe-ru’yah melakukan tirakatan untuk meningkatkan konsentrai dan objektifitas.

Beberapa kalangan juga berpendapat bahwa hasil pengamatan harus di uji dan harus sesuai dengan perkiraan hisab, jika misalnya secara hisab hilal mustahil terlihat maka hasil ru’yah diragukan ke sahihannya. Ketidak mungkinan hilal terlihat menurut perhitungan bisa dikarenakan ketinggian (altitude) terlalu rendah, azimuth terlalu melebar atau kerena pembiasan atmosfer atau faktor paralax.

Keberlakuan (mathla’)

Keberlakuan ru’yah terdapat empat pendapat

  • Keberlakuan ru’yah hanya berlaku sejauh jarak dimana qashar shalat diijinkan (± 80km)
  • Keberlakuan ru’yah sejauk 8 derajat bujur seperti yang dianut negara Brunai.
  • Keberlakuan ru’yah sejauh wilayah hukum (wilayatul hukmi) seperti yang dianut Indonesia, sehingga dimanapun ru’yah dilakukan hasilnya berlaku untuk seluruh Indonesia.
  • Keberlakuan ru’yah dapat berlaku untuk seluruh dunia, ini yang dikenal dengan ru’yah global. Pendapat ini yang dianut pengikut Imam Hanafi.

Penggunaan alat bantu

  • Menurut Ibnu Hajar ru’yah (ru’yah bil fi’li) tidak sah menggunakan cara pantulan melalui permukaan air atau kaca.
  • Asyarwani berpendapat penggunaan alat yang memperbesar seperti telskop masih dianggap sebagai ru’yah.
  • Al-Muthi’i berpendapat penggunaan alat optik (nazharah) masih diperbolehkan karena yang melakukan penilaian terhadap hilal adalah mata pe-ru’yah sendiri (‘ainul hilal).

Hisab

Dari metode hisab ada dua ranting perbedaan yang mendasar yaitu hisab ‘urfi dan hisab haqiqi

Hisab ‘Urfi

Hisab ‘urfi berati kebiasaan, berasal dari penyimpulan rata-rata lamanya bulan qomariah. Penanggalan qomariah atau lunar calendar menggunakan lamanya waktu edar bulan, seperti kita ketahui panjang dalam bulan qomariah hanya ada dua kemungkinan 29 atau 30 hari, paling sering adalah 29 hari kadang-kadang saja yang 30 hari seperti halnya 28 hari pada pebruari di tahun masehi kecuali pada tahun kabisat ada 29 hari. Satu tahun qomariah berumur 354 11/30 hari, karena itu daur nya 30 tahun. Dalam masa itu ada ada 11 tahun yang mendapatkan tambahan satu hari sebagai penggenapan, kesebelas tahun tersebut juga dinamakan tahun kabisat qomariah. Dengan demikian pada tahun ini berumur 355 hari. Kabisat ini terjadi pada tahun-tahun ke-2, 5, 7, 10, 13, 15, 18, 21, 24, 26 dan 29. Pada tahun kabisat setiap bulan ganjil ditetapkan berumur 30 hari dan bulan genap 29 hari kecuali bulan ke-12 yaitu Dzulhijjah yang berumur 30 hari. Jadi dapat disimpulkan pada hisab ‘urfi penetapan panjang bulan qomariah dilakukan tanpa menghitung posisi bulan terbit, terbenam dsb. Metoda ini hanya digunakan sebagai tarikh.

Hisab Haqiqi

Metode ini memperhitungkan posisi hilal baik secara langsung maupun melalui perhitungan kapan terjadinya konjungsi (ijtima’). Cara perhitungan ini sangat beragam antara lain hisab ijtima’, hisab imkanur ru’yah dan hisab posisi bulan

Hisab Ijtima’

metode ini menghitung terjadinya ijtima’ (conjunction) yaitu saat Matahari, bulan dan Bumi berada dalam satu garis. Jika ijtima’ terjadi sebelum maghrib maka malam harinya sudah masuk bulan baru. Metode Ijtima’ tidak ada hubungannya dengan apakah hilal dapat di ru’yah atau imkanur ru’yah. Kriteria waktu terjadinya ijtima’ menurut ilmu astronomi merupakan batas ysng jelas antara bulan lama dan bulan baru.

Hisab Imkanur Ru’yah

metode ini menghitung posisi bulan yang memungkinkan bulan dapat di-ru’yah. Ada dua hal yang dihitung dalam metode ini yaitu ketinggian hilal (irtifa’/altitude) dan sudut antara bulan dan matahari. Hasil keputusan konfrensi penetuan awal bulan qomariah yang diikuti 18 negara dan beberapa utusan organisadi Islam tahun 1978 di Turki menetapkan awal bulan dianggap sudah masuk jika saat matahair terbenam hilal mempunyai altitude/irtifa’ 5derajat dan jark sudut 7 ~8 derajat.

Hisab posisi bulan

Metode ini memperhitungkan ijtima’ dan posisi bulan diatas ufuk. Jika ijtima’ pada akhir Sya’ban atau akhir Ramadhan terjadi sebelum maghrib dan tinggi hilal diats ufuk itu positip, maka malam harinya sudah memasuki bualan baru. Metode ini lebih safe dari pada metode imaknur ru’yah karena tidak mempedulikan berapa ketinggian hilal dan sudut yang sampai saat ini belum mendapat kepastian.

Penutup

Demikian tulisan ini sekilas sebagai jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tentang mengapa sering ada perbedaan dalam penentuan awal dan akhir Ramadhan. Tulisan ini saya kumpulkan dari berbagai sumber. Untuk hal-hal yang lebih mendetail akan saya sampaikan di tulisan berikutnya.

Jika ada koreksi saran dan kritik silahkan sampaikan lewat comment



Warteg
October 21, 2008, 4:06 pm
Filed under: Warteg | Tags: , ,

Warung Tegal adalah salah satu jenis usaha gastronomi yang menyediakan makanan dan minuman dengan harga terjangkau. Biasa juga disingkat Warteg, nama ini seolah sudah menjadi istilah generik untuk warung makan kelas menengah ke bawah di pinggir jalan, baik yang berada di kota Tegal maupun di tempat lain, baik yang dikelola oleh orang asal Tegal maupun dari daerah lain.

Warung tegal pada awalnya banyak dikelola oleh masyarakat dari tiga desa di Tegal yaitu warga desa Sidapurna, Sidakaton & Krandon, Kecamatan DukuhturiKabupaten Tegal. Mereka mengelola warung tegal secara bergiliran (antar keluarga dalam satu ikatan famili) setiap 3 s/d 4 bulan. Yang tidak mendapat giliran mengelola warung biasanya bertani di kampung halamannya. Pengelola warung tegal di Jakarta yang asli orang Tegal biasanya tergabung dalam Koperasi Warung Tegal, yang populer dengan singkatan Kowarteg. Kowarteg hingga saat ini masih kediketuai oleh Sastoro.

Hidangan-hidangan di warteg pada umumnya bersifat sederhana dan tidak memerlukan peralatan dapur yang sangat lengkap. Nasi goreng dan mi instan hampir selalu dapat ditemui, demikian pula makanan ringan seperti pisang goreng, minuman seperti kopi, teh dan minuman ringan. Beberapa warung tegal khusus menghidangkan beberapa jenis makanan, seperti sate tegal, gulai dan minuman khas Tegal teh poci.

Yang unik dari bisnis Warteg ini, meski melayani masyarakat menengah ke bawah, hasil yang didapatkan cukup besar. Hal ini terbukti dari tingkat ekonomi para pengusaha Warteg yang cukup membanggakan. Di Kelurahan, Sidapurna, Sidakaton, dan Krandon kita tidak perlu heran menyaksikan rumah-rumah mewah dibangun di sana. Rumah-rumah itu kebanyakan milik para pengusaha Warteg yang membuka usaha di Jakarta.



dari : http://id.wikipedia.org/wiki/Warung_Tegal


Link:

Komunitas blogger Warung Tegal

waroengtegal.org (WTO)
moci yuk...



Kalender islam (hijriah)
October 20, 2008, 11:50 pm
Filed under: Islamy

Kalender islam (hijriyah) dimulai sejak hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah pada tanggal 16 Juli 622 M (kalender Julian) tetapi resmi ditetapkan jauh setelah Nabi Muhammad SAW meninggal yaitu pada jaman Utsmaniah. Kalender Hijriyah digunakan sebagai kalender resmi di negara-negara kawasan teluk (timur tengah) khususnya kerajaan Saudi Arabia. Di negara-negara muslim lainnya seperti di Indonesia, Malaysia dan lainnya Kalender Hijriyah digunakan hanya untuk keperluan keagamaan misalnya untuk menentukan Puasa Romadhon, ‘Idul fitri dan sebagainya sedangkan kalender resmi yang digunakan adalah kalender gregorian.

Nama-nama bulan dalam kaleder Hijriah:
1. Muharram
2. Shafar
3. Rabi’ al-awwal (Rabi’ I)
4. Rabi’ al-tsani (Rabi’ II)
5. Jumada al-awwal (Jumada I)
6. Jumada al-tsani (Jumada II)
7. Rajab
8. Sya’ban
9. Ramadhan
10. Syawwal
11. Dhu al-Qi’dah
12. Dhu al-Hijjah

Kalender hijriyah dalam penanggalan menggunakan bulan (qomariyah) atau disebut dengan lunar calendar yaitu berdasarkan pergerakan bulan dimana satu bulan adalah lamanya bulan mengelilingi bumi yaitu 29.53 hari dan dalam 12 periode (satu tahun) bulan pada posisi semula, maka dalam satu tahun qomariah ada 354.36 hari.
Berbeda dengan kalender masehi awal hari pada kalender hijriyah dimulai saat matahari terbenam (pada kalender masehi dimulai pada tengah malam) sedangkan awal bulan (tanggal 1) dimulai setelah bulan baru atau hilal (bulan sabit) terbit dari ufuk (horizon) sebelum matahari terbenam, jadi tanggal 1 dimulai saat matahari terbenam hilal harus sudah ada diatas ufuk, jika saat matahari terbenam hilal belum diatas ufuk maka tanggal 1 dimuali pada hari berikutnya, secara astronomi bisa dikatakan tanggal 1 dimulai jika konjungsi (ijtima’=bumi bulan dan matahari dalam satu garis) terjadi saat matahari mempunyai ketinggian positif (diatas horizon).